gambar:i0.wp.com/infopublik.solokkota.go.id

Contoh Pemanfaatan Teknologi Dalam Bidang Pertanian yang Ada di Indonesia

Halo guys kali ini saya akan menyajikan tulisan mengenai contoh pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian yang bisa kita manfaatkan.Di indonesia yang mayoritas pendudukanya bertani harus menggunakan teknologi agar mempermudah pekerjaan mereka.
Mari kita simak selengkapnya bagai mana pemanfaatan teknologi dalam bidang pertaniaan.

Dalam hal ketersediaan pangan tentu terkait dengan keunggulan tehknologi di bidang pertaniaan yang berperan penting dalam menghasilkan produktivitas pertaniaan yang tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan kita selama ini, pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus selalu dipenuhi. Karena makanan merupakan salah satu faktor pendukung kelangsungan hidup setiap orang.

Contoh pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian,Simak selengkapnya di bawah ini:

contoh pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian
sumber gambar:www.kalderanews.com

Jika kita membahas pengertian teknologi dalam bidang pertaniaan, maka tidak terlepas dari asal katanya, yaitu teknologi dan pertaniaan. Seperti yang kita ketahui bersama, teknologi sebenarnya diciptakan oleh manusia untuk membantu dan mempermudah pekerjaan semua orang yang menggunakannya.

Teknologi adalah penerapan dan pengembangan ilmu peralatan mesin. Dimana alat-alat tersebut dirancang dan direkayasa untuk membantu manusia mengatasi atau memecahkan masalah kehidupan yang ada.

Sedangkan pertaniaan itu sendiri digambarkan sebagai usaha manusia untuk menghasilkan pangan, ternak dan hasil bumi yang menggunakan sumber daya alam, baik dari tumbuhan maupun hewan yang sudah tersedia.

Mencermati kedua terjemahan istilah tersebut, maka tehknologi pertanian adalah penerapan ilmu dan teknik yang diterapkan pada semua kegiatan pertanian. Lalu apa saja keunggulan teknologi di bidang pertanian?

Pada dasarnya dengan tersedianya teknologi yang lebih canggih dan modern, semua kegiatan pertaniaan akan jauh lebih berkembang dan maju. Produktivitas yang dihasilkan akan meningkat, sehingga menghasilkan berbagai keuntungan yang besar. Apakah Anda yakin bertanya-tanya bagaimana tehknologi yang digunakan dalam pertaniaan dapat memberikan dampak yang besar?

Pengembalian yang lebih tinggi

Contoh pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian Dengan menggunakan suatu tehknologi, dapat dipastikan tingkat produktivitasnya akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertaniaan tradisional. Ini juga berlaku untuk waktu dan hasil.

Dengan keunggulan teknologi pertaniaan, proses bercocok tanam di lahan yang luas dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Model pengobatan yang digunakan juga efektif dan efisien. Tentu saja, perlakuan seperti itu menghasilkan panen yang melimpah.

Menghasilkan produk pertaniaan yang berkualitas

Menggunakan teknologi pertaniaan, selain hasil panen yang melimpah, produk yang dihasilkan juga berkualitas prima. Teknologi pertaniaan saat ini mampu mengurangi penggunaan air, pupuk bahkan pestisida.

Tanaman pertaniaan yang menggunakan terlalu banyak air, pupuk dan pestisida mengurangi kualitas produk yang mereka hasilkan. Dengan keunggulan teknologi di bidang pertaniaan, kemungkinan ini dengan mudah dapat dihindari.

Tidak hanya itu, produk peertanian yang berkualitas juga memberikan tenaga penjualan yang tinggi. Manfaatnya pun akan lebih besar. Kesejahteraan petani juga akan terjamin.

Penerapan teknologi pertaniaan yang sesuai

contoh pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian Tidak serta merta hanya melihat manfaat dari penggunaan teknologi peertanian yang ada. Namun, kita juga harus bijak dalam menggunakan teknologi yang tepat.

Dengan kata lain, teknologi yang kita gunakan tidak boleh merusak ekosistem atau lingkungan sehingga menimbulkan kerugian. Misalnya, tehnologi yang digunakan tidak menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan.

Manfaat teknologi di bidang pertaniaan bisa kita rasakan. Pemilihan tehnologi yang ramah lingkungan juga harus dipertimbangkan. Dengan cara ini, kegiatan pertanian kita dapat terus berlanjut dan berkelanjutan.

Tantangan dan solusi

Tantangan utama pertama adalah pemerintah belum memprioritaskan adopsi tehnologi digital di sektor pertaniaan. Hal ini terlihat dari rencana strategis Kementerian Pertaniaan (Kemtan) 2020-2024 yang tidak secara khusus menjabarkan strategi adopsi tehnologi digital (MercyCrops & Rabobank, 2020). Akibatnya, dukungan pemerintah terhadap program-program tersebut masih terbatas dan tidak merata. Untuk mengatasinya, Kementerian Pertaniaan dan kementerian terkait lainnya harus segera mengembangkan proyek nasional pengenalan tehnologi pertanian digital. Saat ini, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan HARA dan Bank BTPN dalam Program Pinjaman untuk Petani dan UMKM.

Kedua, petani memiliki literasi digital yang rendah. Sebagian besar petani Indonesia telah menyelesaikan sekolah dasar, dengan usia rata-rata di atas 45 tahun. Situasi ini membuat petani sulit beradaptasi dengan tehnologi baru. Namun, meningkatnya jumlah anak muda yang bekerja di sektor pertanian menawarkan harapan untuk meningkatkan literasi digital petani. Hal ini dapat diintegrasikan ke dalam program perluasan pertanian.

Peran perluasan pertanian sektor swasta juga perlu diperkuat, karena penasihat pertanian pemerintah seringkali tidak dapat menjangkau petani (Bank Dunia, 2020). Adopsi tehnologi digital di bidang pertanian juga dapat dilakukan dengan meningkatkan investasi di sektor pertaniaan. Penanaman modal dalam dan luar negeri dapat memungkinkan alih tehnologi dan pelatihan sumber daya manusia.

Namun, infrastruktur digital di Indonesia masih lemah dan tidak merata. Speedtest melaporkan bahwa Indonesia menempati peringkat 121 dari 139 negara untuk kecepatan internet. Hal ini tentunya akan menjadi kendala bagi petani khususnya yang tinggal di daerah terpencil untuk memanfaatkan tehnologi pertanian digital.

Pengembangan infrastruktur digital dapat dicapai dengan memastikan regulasi telekomunikasi yang stabil dan dapat diprediksi. Pemerintah juga harus mendorong swasta untuk bersedia membangun infrastruktur digital di daerah terpencil. Pemerintah dapat memberikan subsidi atau keringanan pajak kepada individu yang menyetujui.

Pemerintah dan swasta harus terus mendorong penggunaan tehnologi pertanian digital. Pasalnya, sektor pertaniaan terbukti menjadi jantung wabah penyakit koroner, termasuk kaum muda. Oleh karena itu diperlukan dukungan inovasi tehnologi digital di sektor pertanian guna meningkatkan kualitas sektor pertaniaan Indonesia.

Pandemi mahkota (Covid-19) terbukti meningkatkan penggunaan tehnologi digital untuk berbagai aktivitas masyarakat Indonesia. Namun, tidak demikian di sektor pertanian.

Menurut survei angkatan kerja nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2020, 20,62% anak muda Indonesia bekerja di pertaniaan, naik dari 18,43% pada periode sebelumnya. Peningkatan jumlah pemuda di sektor pertaniaan selama pandemi dapat memberikan dorongan untuk perluasan sektor pertanian. 85,62% di antaranya adalah pengguna internet dan berpotensi menjadi yang pertama mengadopsi tehnologi digital di sektor pertaniaan.

Teknologi digital pertanian dapat didefinisikan sebagai penerapan teknologi informasi dan komunikasi lintas perangkat, jaringan, layanan, dan aplikasi. Tujuannya adalah untuk membantu para pelaku pertanian membuat keputusan dan menggunakan sumber daya (Bank Dunia, 2020).

Menurut laporan MercyCorps dan Rabobank, ada 55 teknologi pertanian digital di Indonesia. Rata-rata, tehnologi digital masih dalam masa pertumbuhan (benih atau tahap awal).

Laporan dari MercyCorps dan Rabobank juga menyatakan bahwa 60% dari tehnologi pertaniaan digital menargetkan informasi digital, seperti informasi pasar atau harga. 40% lainnya fokus pada akses pasar, dengan hampir sepertiga menargetkan rantai pasokan dan manajemen data. Sisanya digunakan untuk jasa keuangan dan pertanian presisi, seperti penggunaan satelit, sensor, dan mekanisasi pertanian.

Teknologi pertanian digital juga muncul dari skema public-private partnership (PPP). Melalui Proyek Kemitraan Publik-Swasta Hortikultura Indonesia-Jepang (IJHOP4), petani kecil dapat terhubung ke program pinjaman melalui tehnologi blockchain. Blockchain memungkinkan penyimpanan digital data pertanian. Pemanfaatan teknologi pertanian digital dapat membawa perubahan positif bagi petani.

Data McKinsey (2020) memperkirakan penggunaan tehnologi modern di sektor pertaniaan dapat meningkatkan kinerja ekonomi hingga $6,6 miliar per tahun. Kehadiran teknologi pertanian digital seperti TaniHub yang secara langsung menghubungkan petani dengan konsumen dapat memperpendek rantai pasok. Petani juga dapat mengurangi ketergantungan pada perantara. Hingga saat ini, sebagian besar petani menjual hasil pertaniaan dalam jumlah besar kepada perantara. Oleh karena itu, petani tidak memiliki daya tawar yang kuat untuk menetapkan harga produsen.

Selain itu, petani memiliki akses informasi yang akurat dan transparan mengenai harga komoditas di pasar. Pemahaman yang mendalam tentang dinamika harga komoditas pertaniaan dapat membantu petani menetapkan harga jual pada tingkat yang lebih terukur di tingkat produsen.

Teknologi pertanian digital yang berfokus pada layanan keuangan akan memberikan akses yang lebih besar ke sumber pendanaan yang tepat. Saat ini, petani secara efektif menikmati dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai sumber pembiayaan kegiatan pertaniaan. Namun, rendahnya jumlah pinjaman maksimum membuat petani tidak dapat mengandalkan KUR untuk kegiatan pertaniaan yang membutuhkan investasi besar, seperti budidaya (GSMA, 2019).

Layanan keuangan digital khusus pertanian dapat memberikan solusi. Selain itu, produktivitas pertanian merupakan manfaat potensial dari teknologi pertaniaan digital.

Kehadiran teknologi digital dapat meningkatkan pengetahuan teknis petani; memungkinkan perhitungan penggunaan pupuk, benih atau input pertanian lainnya yang lebih efisien; dan meningkatkan pengambilan keputusan petani dengan cuaca, pengelolaan tanaman, kondisi pasar, atau data ternak (Bank Dunia, 2020).

Sayangnya, hanya sedikit petani yang bisa menikmati manfaat tersebut. Sebagian besar teknologi pertanian digital memiliki kurang dari 10.000 pengguna. Artinya, jutaan petani masih belum memiliki akses ke teknologi pertanian digital. Hal ini karena masih ada sejumlah tantangan utama yang menghalangi petani untuk menggunakan teknologi pertanian digital terkini.

Nah itu semua adalah contoh pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian yang bisa kalian terapkan di kehidupan.Semoga ini bisa bermanfaat untuk kalian ya,terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.